Kehilangan itu menguatkanku. Mungkin bagi sebagian orang kehilangan orang yang sangat dicintai bagai mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Pikiran ini sempat menghinggapi saya puluhan tahun lalu. Ayah yang sangat saya sayangi dan banggakan dipanggil Allah ketika kami masih sangat membutuhkan.

Penyakit yang tidak pernah disadari bersemayam dalam tubuh ayah seketika menggerogoti kesehatan ayah. Hanya dalam waktu 14 hari Allah memanggil ayah kembali ke pangkuan-Nya.

Saya sebagai anak sulung harus berusaha menguatkan diri dan ibu yang kala itu sangat hancur. Walau usia saya masih 13 tahun kala itu, tapi keadaan mengharuskan saya menjadi dewasa sebelum waktunya.

Kehidupan kami berbalik 180 derajat. Ekonomi keluarga yang awalnya sangat berkecukupan seketika berbalik secara drastis.

Demi mencukupi kebutuhan sehari hari ibu berjualan kue dan saya setiap hari sambil berangkat ke sekolah menitipkan ke beberapa sekolah.

Rela tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi demi adek yang harus menempuh pendidikan SMU meski sempat tidak menerima keadaan ini. Semua saya lakukan karena saya menyadari kondisi ibu yang memang tidak memungkinkan untuk membiayai kami berdua.

Dari semua kejadian ini banyak hikmah yang saya dapatkan. Saya menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah dan lebih punya empati pada orang lain.

Meski semua tidak sesuai keinginan saya, tapi saya yakin Allah akan selalu memberi yang terbaik pada saatnya nanti.

Kehilangan ini juga membuat saya semakin menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga adalah hal paling utama. Bagi kalian yang masih memiliki orang tua yang lengkap, jangan pernah abaikan mereka.

Sayangi mereka dan bahagiakanlah mereka, karena ketika kalian kehilangan mereka penyesalan itu akan kalian bawa seumur hidup.

Sidoarjo, 12 Mei 2020